Jumat, 25 Oktober 2013

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Dalam kehidupan sehari hari kita percaya bahwa kebohongan kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata  kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita ini bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki laki di sebuah keluarga yang miskin, bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar". KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika aku mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan.
Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hatiku juga tersentuh, lalu menggunakan sumpit dan memberikannya kepada ibuku. Tetapu dengan cepatnya ia berkata : "Makanlah nak, ibu tidak suka makan ikan". KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP,demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkna pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata : "Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus bekerja." ibu tersenyum dan berkata : "Cepatlah tidur nak, ibu tidak capek". KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapaat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku dibawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan di dalam botol yang dingin, teh kental yang tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minu, Ibu berkata : "Minumlah nak, ibu tidak haus". KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah, tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar ataupun kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta". KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku, dan abangku semuanya sudah tamat sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau. ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja diluar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhanibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Ibu masih ada uang". KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan tersebut. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, dan bermaksud untuk tidak merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku : "Ibu tidak terbiasa untuk hidup di Amerika nak". KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberrang samudra atlantik langsung segera pulang menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang terlihat angat tua, menatapa aku penuh dengan kerinduan setelah lama tidak bertemu, walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan senyum ikhlas dan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, ibu tidak kesakitan". KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup untuk yang terakhir kalinya.

Cerita ini saya ambil dari sebuah mentoring di kampus saya yang kemudian saya tulis kembali disini, saya berharap bagi yang masih mempunyai ibu tidak akan menyianyiakan pengorbanan ibu yang begitu besar untuk kita, bahkan pengorbanan yang terkadang tidak kita ketahui. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar